Bagaimana ‘Meloloskan’ Diri dari Hukum Pidana

Posted on

Pengacara Pidana Surabaya – Sengaja saya gunakan tanda kutip, karena meloloskan diri dalam hal ini bukan berarti menghindarkan diri dari pertanggungjawaban pidana, ketika telah melakukan perbuatan pidana. Melainkan, bagaimana jika seseorang tidak melakukan pidana, tidak terjerat hukum pidana.

Hukum Pidana

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa adakalanya seseorang yang sebenarnya tidak tersangkut paut dengan sebuah peristiwa pidana, bisa terjerat hukum pidana. Entah itu sebuah kasus yang berdiri sendiri (hanya dilakukan oleh satu orang), ataupun dalam kasus penyertaan (dilakukan oleh beberapa orang).

Dewasa ini, sangat banyak kasus pidana yg melibatkan banyak sekali pihak yang terlibat. Kasus tipikor (tindak pidana korupsi) misalnya, seringkali menyeret banyak orang yang bahkan perannya sangat kecil. Sehingga, adalah perlu bagi seseorang yang memiliki kemungkinan, meskipun kemungkinan tersebut sangat kecil, untuk berlaku hati-hati bahkan sejak masa penyelidikan.

Jangan sampai keterangan yang diberikan, justru menjadi bumerang bagi dirinya, dalam arti jangan sampai memberikan keterangan yang bersifat kabur, dan membuat penyidik salah paham, sehingga membuat dirinya terseret dalam kasus pidana yang seharusnya dirinya tidak perlu terlibat.

Jalan terbaik tentunya adalah berusaha menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat menariknya ke dalam pusaran peristiwa pidana. Namun jika sudah sampai masuk ke penyidikan, akan sulit untuk melepaskan diri dari proses peradilan pidana.

Dalam penyelidikan, dimana pada umumnya dipanggil sebagai saksi, sampaikan keterangan apa adanya, namun perhatikan supaya tidak bersifat multi tafsir. Usahakan keterangan tidak bertele-tele, tidak berputar-putar. Ingat, keterangan yang diberikan itu dicatat dalam BAP (berita acara pemeriksaan) yang akan digunakan dalam persidangan. Sehingga sebelum memberikan keterangan, ingat-ingat bahwa hal tersebut akan dikonfrontasikan dalam persidangan, termasuk dihadapkan dengan pihak-pihak lain yang terlibat. Termasuk dengan terdakwa.

Jikapun memiliki kesalahan, tidak semua kesalahan itu berimplikasi pidana. Adakalanya hanya berimplikasi perdata atau administratif. Selama tidak diiringi niat jahat, kesengajaan terhadap perbuatan jahat, sudah dilakukan sesuai prosedur, aturan, maka tidak perlu ada yang ditakutkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *